“Jingga”

Posted: September 27, 2011 in Sajak

oleh Daenk Dan Perikecil pada 07 Juli 2011 jam 20:05

Ingatkah kamu kala kita berpayung lembayung?
wajah kita sama terbiasi jingga.
Kita berangkul menggigit langit,
mengecup mega mega pada senja.

Kita sama membunuh resah,
dengan lompatan kecil motivasi nuansa.
Aku mengisi jiwamu,
Kamu menampung jiwaku.

Barisan gigi indahmu yang melempar lelahku,
dan mata bolamu yang menenggelamkan amarahku.

Sayang. Mari bercinta

“Masih yang Kamu”

Posted: September 27, 2011 in Sajak

oleh Daenk Dan Perikecil pada 06 Juni 2011 jam 23:10

Malam ini aku jatuh cinta pada sepi,
sesering kulempar wajah pada dinding sunyi.
Malam ini aku rebah di beranda malam,
menghirup kemuning yang membuat bayangmu pudar.

Sering kali kita seperti ini,
masih yang kamu tak pernah memperhatikan.
Bintang jatuh di pelukmu,
sabit mengintip di bibirmu.

Sayang. Sudah beberapa kali ini terjadi.
dan masih kamu yang mengembunkan rindu dalam belukar.

Sudahlah, aku tidurkan saja rasa ini dalam kabut.
Biar matahari yang menyibaknya.
Aku padam.

“Patah”

Posted: September 27, 2011 in Sajak

oleh Daenk Dan Perikecil pada 12 Juni 2011 jam 22:45

Aku patah sayap.

Perlahan kau tepikan aku,
meretakkan dinding asmara pulau kelapa.
Aku tak berkepak kaku,
kau patahkan rinduku.

Entah apa yang hendak kau fikirkan?
Jangan katakan kau tak tau,
Setelah kau paksakan aku memadamkan api,
Kini kau berharap tungku itu kunyalahkan kembali.

Aku patah sayap,
dan kau menyuruhku terbang.

Indah memang sakit ini kau kemas,
hingga kuimajinasikan perih ini sebuah telaga madu.
Namun aku tetap tenggelam,
dan kau tak mengajariku berenang.

Aku patah kau buat.
rinduku semakin aus terlumat.

Aku, Kamu, dan, Tuhan

Posted: April 19, 2011 in Sajak

oleh Daenk Dan Perikecil pada 30 November 2010 jam 20:58
Aku: manusia penuh ego seperti katamu,
Kamu: manusia penuh ikrar yang teringkar,
Tuhan: yang menentukan takdir KITA.

Aku. dengan pengakuanku di altar rasa ini,
tak lagi memejamkan mata di mimpimu.

Kamu. Beratus-ratus kali berorasi tentang asmara,
yang lain dengan bahasa tubuhmu.

Tuhan. pun mengenali kita adalah dua jiwa yang menjembatani rindu.
masih menyimpan rahasia tentang rasa kita.

dENs
Depok, Tanpa arloji dan Almenak.

Amnesia

Posted: April 19, 2011 in Sajak

oleh Daenk Dan Perikecil pada 27 November 2010 jam 19:10
Amnesia dialtar akad.

Tak segores ucap terdekap,
aku pengap dimata yang sembab.

Lirih memanggil ingatan dalam lipatan.
seperti sukar dalam bernafas yang sesak.
Imaji ini kugali.
tetap kata KITA tak ada.

Ingkar ini kau gulai,
samar menyamar ikrar bui.
Aku berargumen,
KAU tenggelam dalam tangis.

Kau dan aku sama tak ingat.
seperti apa kita kala itu?

Kemarin kau berjanji madu.
hari ini kau ingkari yang masam.

dENs
Depok, tanpa waker dan Almenak.

Cinta yang Seperti Kamu Punya

Posted: April 19, 2011 in Sajak

oleh Daenk Dan Perikecil pada 16 Desember 2010 jam 15:45
Berbinar mataku kala kudengar namamu,
sayang. bicara tentangmu takan habis semalam.
Mulai dari lekuk tubuhmu yang sabit,
sampai dilangkahmu yang senja.

Andaikan saja mata itu matamu, kau akan lihat seberapa besar syukur karena memiliki cinta seperti kamu punya.
Sayang. mengenangmu sudah cukup membuat taman hatiku berbunga.

Meski bukan dengan aku kau tunggal,
namun kurasa kau mengerti rindu ini.
Sayang. aku bangga mengenalmu, dan menikmati cinta yang seperti kamu punya.

dENs.
Depok,1208

“Kontrasepsi diri”

Posted: April 19, 2011 in essai

Ini tentang sebuah wacana hati.

Berfikir bukan berarti menceritakan tentang keburukan atau keindahan hati, kata-kata terangkai di hati, melalui proses pemikiran, yang dicerna otak, lalu terbuang melalui pita suara kala lidah bergerak.

“akh..!!!! ini hanya sebuah opini kecil dari otak kecilku saja.”

“maafkan aku bila ini tak sesuai dengan pemikiranmu, huuuuuhhh…”

Seandainya mesin kata ini tak pernah aus akan kerongsokan, mungkin tak hanya sajak cinta yang membuat pesona, caci maki pun mampu membuat kita tersenyum simpul, sayang itu hanya andai kata.

para pelacur kata itu menjajakan beberapa kalimat, yang menyumbat nafsu pejantan tangguh, yang mungkin sangat haus akan kalimat-kalimat omong kosong, tapi biarlah, semua pemikiran itu terjadi tanpa diundang seperti halnya hujan di tengah kemarau bulan ini.


Diantara Embun dan Layang rapuhku

Posted: April 16, 2011 in Sajak

oleh Daenk Dan Perikecil pada 30 Juni 2010 jam 0:39

Disini kelopak mengering,
angin genit menggugurkan.
Tangkai merapuh kuning,
embun tak mengganti hujan.

Dahaga di pagi penuh warta,
surat kabar menjemukan.
Bermandi harta menyulam bahagia,
meniti karir dari aib manusia.

Layangku merapuh.

Sesama tindas sesama,
sejenis menjilat habis.
Diantara embun di panas pagi,
kerakusan kita dimulai.

“Dawai berkarat”

Posted: April 16, 2011 in Sajak

oleh Daenk Dan Perikecil pada 05 Juli 2010 jam 9:58

Mulai mengalun lembut,
di bebatuan berlumut hijau tua.
Renung bersayap embun lekat,
asap kabut tebal tertawa.

Kupetik detik memekik,
ranum dedaun muda tersipu.
Ilalang bergoyang batu akik,
syair kerinduan di lentera biru.

Aku bernyanyi tanpa mata hari,
berdansa tanpa rembulan.
Berkarat dawai-dawai usai,
lirik lagu bercerita rindu.

Putus satu
Hilang tak bernada.

Lingkar Biru

Posted: April 16, 2011 in Sajak

oleh Daenk Dan Perikecil pada 18 Juli 2010 jam 15:21

Masih di lingkar biru aku berdiri.

Negeriku semakin penuh dengan bangsat-bangsat keadilan yang berbelit-belit,

demokrasi semakin linglung, taman cita-cita semakin padat merayap,

bunga-bunga harapan berguguran, jauhi parade pengangguran berdasi.

Negeriku yang sekarat, atau orang-orang negeriku yang kualat,

karena saat semua mencoba menjawab, semua persoalan sungguh membingungkan.

Aku di tepian lingkar biru ini.

Pekerjaan rumah menumpuk, tak pernah nampak rampung,

bayang-bayang kejemuan merajut menjadi kancut pengecut,

semua semakin kalut membalut.

Aku muak disini, dan aku semakin muak dengan alur cerita yang slalu sama,

sama-sama basi, dan sama-sama menjemukan.